Mengukur Warna Lensa Kontak

ap-contact-lens-blog-200x85Pada masa kini, lensa kontak berwarna merupakan lensa yang modis dengan desain dan warna-warna yang lebih beragam dan tegas. Warna lensa dapat melengkapi pemakaian kosmetik dan dengan adanya para desainer kreatif yang menciptakan warna-warna baru, para produsen mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk memastikan bahwa warna lensa kontak yang diproduksi sesuai dengan spesifikasi yang tepat dan warna tersebut dapat dicapai secara konsisten.

Mempertahankan penglihatan yang jelas sangatlah penting pada lensa kontak, namun, proses pewarnaan pada media yang bening dapat mengurangi kejernihan pada media/benda tersebut. Dengan kelengkungan permukaan dan daerah yang kecil, pengontrolan warna pada lensa kontak merupakan hal yang sulit. Instrumen warna CIE L*a*b* digunakan untuk memeriksa transmisi, kejelasan, dan warna lensa optik. Pengukuran lensa kontak pada umumnya mengikuti prinsip yang sama, kecuali untuk lensa yang lebih kecil. Dengan metodologi yang tepat dan bantuan jig, sifat optik dapat diukur dengan mudah dan berulang.

Alat ukur warna seperti Spektrofotometer Konica Minolta CM-5 dilengkapi dengan ruang khusus yang mampu melakukan pengukuran transmitansi. Berbagai macam aksesoris juga tersedia untuk membantu mempertahankan dan mengukur lensa-lensa kecil.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai CM-5 dan bagaimana cara untuk mengukur warna lensa kontak, silahkan hubungi PT. Almega Sejahtera melalui email marketing@almega.co.id

 

Meningkatkan Kualitas Tepung dengan Pengukuran Warna

ap-flour-blog-1-200x133Warna dan tekstur adalah hal-hal yang sangat penting untuk konsumen, pabrik tepung melalui proses yang panjang untuk memastikan bahwa warna tepung mereka memenuhi harapan klien. Pengecekan ini dilakukan terutama berdasarkan pada permintaan konsumen. Ketika dalam proses penggilingan, endosperma tersebut terpisah dari kulitnya dan kadar abu memberikan indikasi untuk proses ini. Kadar abu yang tinggi menunjukkan kadar kulit yang tinggi dan ini merupakan indikasi dari kelas-kelas tepung. Dari berbagai gandum, warna tepung dapat menjadi indikasi yang terpercaya untuk melihat kualitas gandum dan pengecekan ini sangat penting untuk para produsen agar dapat melihat kualitas tepung tersebut.

Pengukuran warna dengan spektrofotometer dan kromameter telah banyak digunakan di industri pabrik untuk membantu para produsen mempertahankan kualitas tepung mereka. Ruang warna seperti CIE L*a*b* adalah pengecekan warna yang sudah umum dilakukan.

Dibawah ini adalah ekstrak dari Canadian Grain Commission mengenai bagaimana untuk mengukur warna tepung dan bubur tepung semolina.

CIELAB Tristimulus Pengukuran Warna Tepung

Minolta model CM-5 top-port spektrofotometer yang berdiri sendiri (d/8 geometri dan diameter area pengukuran 30 mm) digunakan untuk menentukan warna sampel tepung gandum. Sebuah cawan petri berdiameter 45 mm diisi dengan sampel tepung. Kemudian cawan tersebut ditepuk secara perlahan hingga tepungnya menjadi rata dan tidak ada kesenjangan yang terlihat dari dasar cawan tersebut. Kedalaman/tinggi tepung tersebut adalah paling sedikit 10 mm. Hasil pengecekan dilaporkan sebagai rata-rata duplikat penentuan parameter L*, a*, dan b* dari model warna CIELAB, yang masing-masing menunjukkan nilai-nilai penerangan, kemerahan, dan kekuningan. Berikut adalah hasil untuk 10° pengamat standar dan D65 illuminant:

  • L*: 100 putih, 0 hitam
  • A*: +60 merah, -60 hijau
  • B*: +60 kuning, -60 biru

CIELAB Tristimulus Pengukuran Warna untuk Bubur Tepung Semolina

Sebuah spektrofotometer top-port yang berdiri sendiri digunakan untuk menentukan warna gandum durum dari bubur tepung semolina. Sampel percobaannya dibuat menjadi bubur dengan mencampurkan 10 gram semolina pada dasar kelembapan 14% dan 12.5 ml air hasil penyulingan. Setelah dicampur dengan menggunakan pengaduk overhead yang dilengkapi dengan paddle aduk poros (2 menit, 100 rpm), bubur dituangkan ke dalam cawan Petri (45 mm diameter) dan didiamkan selama 5 menit sebelum melakukan analisa. Warna bubur tepung semolina ditentukan dengan menggunakan spektrofotometer Minolta model CM–5 yang dilengkapi dengan d/8 geometri dan area pengukuran dengan diameter 30 mm. Hasil pengecekan dilaporkan sebagai rata-rata duplikat penentuan parameter L*, a*, dan b* dari model warna CIELAB, yang masing-masing menunjukkan nilai penerangan, kemerahan, dan kekuningan. Hasil untuk 10° standar pengamat dan D65 illuminant adalah sebagai berikut:

  • L*: 100 putih, 0 hitam
  • a*: +60 merah, -60 hijau
  • b*: +60 kuning, -60 biru

Untuk informasi dan pengetahuan lebih lanjut mengenai pengukuran warna tepung dan bidang lainnya, silahkan hubungi PT. Almega Sejahtera melalui email marketing@almega.co.id

 

Kapan Anda Membutuhkan Alat Ukur Berbasis Spektrum, bukan Berbasis Tristimulus?

Alat ukur warna dengan sistem tristimulus merupakan instrumen yang sudah digunakan selama beberapa dekade. Walaupun instrumen ini dapat menghasilkan ribuan pengukuran per detik, saat mengukur tipe LED tertentu, alat dengan sistem spektral lebih direkomendasikan untuk akurasi lebih tinggi.

Tipe Alat Tristimulus Spektral
Kecepatan Pengukuran Lambat
Harga Lebih Murah Lebih Mahal
Ukuran Kecil Besar
Error 1~10% <2%

Tristimulus

Detektor tristimulus erdiri dari tiga detektor dan didesain berdasarkan kemampuan mata untuk melihat warna. Di depan setiap detektor terdapat filter, dan didefiTristimulusniskan sebagai fungsi pencocokan warna CIE 1931 XYZ.

 

Seperti mata, detektor ini unggul dalam mengukur sumber cahaya yang “kontinu” dengan rentang gelombang cahaya yang terlihat oleh mata. Mata biasa digunakan untuk melihat cahaya natural yang datang dari api atau matahari. Sumber lain yang mirip adalah lampu pijar, lampu fluoro/pendar dan LED putih (2700K). Pada sumber dengan gelombang yang pendek, atau sumber cahaya yang “diskontinu”, kesalahan pengukuran meningkat.

Sumber cahaya kontinu vs diskontinu (terputus-putus)

Bandingkan kedua grafik di bawah. Grafik pertama menggambarkan spektral dari 2856 K lampu pijar yang sudah dinormalisasi, menggunakan fungsi pencocokan warna. Perhatikan bahwa kurvanya mempunyai bentuk sangat mirip dengan yang aslinya, hanya berbeda ukurannya saja.

Tristimulus 2

Grafik selanjutnya menggambarkan puncak LED pada 420nm (angka ini sengaja dipilih untuk memaksimalkan error). Kurva X dan Z sangat kecil dibandingkan kurva Y, dan juga berbeda bentuknya.

Tristimulus 3

Grafik diatas menunjukkan data dari 380nm sampai 780nm, dengan jarak tiap 1nm. Total data adalah 780-380+1 atau 401 titik poin. Data ini hanya tersedia dari instrumen dengan basis spektral. Sistem tristimulus hanya menghasilkan 3 titik poin. Karena itu, tristimulus tidak dapat mendeteksi perubahan warna yang halus atau tidak signifikan.

Untuk informasi mengenai alat analisa warna dengan sistem tristimulus atau spektral, silakan hubungi PT. Almega Sejahtera di marketing@almega.co.id.

Warna dan Penggunaannnya di Cinematography

Warna CinemaWarna telah menjadi bagian dari pembuatan film sejak industri film baru beranjak. Pada awal dari gambar bergerak, sebelum penemuan film berwarna, para pembuat film akan mewarnai setiap gambar dengan tangan untuk menambah elemen baru ke dalam hasil produksi mereka. Mengapa? Karena walaupun pada saat itu, mereka mengerti kekuatan dari warna yang dapat menambah segi visualitas dari sebuah film.

Setiap artikel dari teori warna akan memberitahu Anda bahwa warna tertentu menyampaikan perasaan tertentu dan mengkomunikasikan informasi tambahan tentang sebuah situasi atau lingkungan. Tetapi di pembuatan film, kreatifitas merupakan pemeran penting dalam menggunakan wana untuk membantu penyampaian cerita atau menyampaikan perasaan. Selain dihubungkan dengan perasaan marah, warna merah juga dapat digunakan untuk mengekspresikan kebahagiaan. Warna hijau juga dapat menunjukkan damai atau hijau yang lebih pucat dapat digunakan untuk menunjukkan perasaan bosan.

Di atas semua hal ini, para pembuat film tidak pernah memakai satu warna saja. Biasanya, mereka memakai beberapa warna dengan cara tertentu untuk digunakan selama film dibuat. Beberapa produser menggunakan warna yang sama dengan rona dan saturasi yang berbeda, sedangkan yang lainnya menggunakan warna tambahan dimana beberapa warna dipasangkan untuk menyeimbangkan suasana di adegan tersebut. Metodenya dapat berupa Analogous (warna yang berdekatan dipasangkan) atau Triadic (jarak dari satu warna ke warna lain sama).

Produsen film juga mengasosiasikan warna tertentu dengan karakter atau situasi di sekitarnya. Di kebanyakan film, karakter utama akan memakai pakaian dengan warna yang menarik untuk menangkap perhatian penonton. Misalnya, karakter yang biasanya ceria dan memakai warna kuning, pada saat berada di adegan mencekam (hitam atau gelap), para penonton dapat mengasumsi suatu yang buruk akan terjadi.

Warna juga dapat digunakan untuk menunjukkan perkembangan dari sebuah karakter. Sebagai contoh, The Last Emperor, karakter utamanya dikelilingi dengan warna merah sesuai dengan pengaruh kultural di sekitarnya. Ketika dia tumbuh, warnanya berubah menjadi kuning. Pada akhirnya, pada waktu film selesai, dia telah menjadi dewasa dan meninggalkan banyak tradisi kulturalnya, dan lingkungannya menjadi hijau gelap.

Sudah layaknya kita mengatakan bahwa warna adalah pengaruh paling penting dalam bercerita dan bagaimana persepsi kita terhadap karakter dan pesan di dalam film itu.